Latest Posts
Rabu, 18 September 2019
Selasa, 17 September 2019
JOB SKILLS
Donny M. Siradj
September 17, 2019
Attending the Deloitte Indonesia Infrastructure CEO Forum 2018 : "Unlock Investment Potential from Public and Private" which discussed connectivity, urban and rural development, infrastructure overview, opportunities, and challenges in Southeast Asia and Indonesia, which underlines PPP as one of the strong viable financing options to the future infrastructure development in Indonesia, where both private and public meet their common interest.
Happy to meet the east java vice governor elect, Emil Dardak, PhD, (wagub milennial kita!), the next indonesian future milennial leader, which coming from professional backgrounds. Happy to hear that his city has been recently selected as the only Asian local government to be part of Bloomberg Harvard City Leadership Initiative, benefiting from Bloomberg and Harvard continued assistance in city leadership innovation.
Eranya kepemimpinan zaman now and beyond. High quality milennials leader! Selamat datang pemimpin milennial jatim ! Strong leadership with integrity. Masook pak Emil. Bring it on cak.
#latepost
#deloitteinfrastructureforum218
#pemimpinmilennialsjatim
#futureindonesianleader
#proudeastjavaners
#deloitteinfrastructureforum218
#pemimpinmilennialsjatim
#futureindonesianleader
#proudeastjavaners
JOB SKILLS
Donny M. Siradj
September 17, 2019
Mencermati opini dan perdebatan pasca debat presiden kemarin, daripada kita terlibat kedalam narasi yang tidak produktif alias nyinyir bin julid
:Dyang mirip fenomena ‘Echo Chamber’ (fenomena sosial dimana seseorang yang hanya mau menerima pendapat atau pikiran yang sejalan dengan mereka, sulit untuk menerima ‘different point of view’ dan teknologi big data analytic mengamplify fenomena sosial ini), lebih baik kita mencoba mengkaji perdebatan topik yang lebih substantif.
Salah satu topik atau wacana yang menarik untuk bisa diexplore lebih jauh muncul dari debat perdana kemarin adalah mengenai “Tax Ratio” atau rasio pajak, ini topik penting karena ini berkaitan dengan sumber penerimaan negara, top line revenue stream nya suatu negara yang digunakan untuk pembangunan, karena pajak memang masih menjadi nadi pembangunan yang memberikan kontribusi ~80% terhadap pendapatan negara kita (sisanya dari cukai dan PNBP).
Untuk memudahkan memahaminya kita mulai dari beberapa pertanyaan terlebih dahulu i.e definisi tax ratio atau rasio pajak.
Apakah itu Tax Ratio ?
Tax ratio atau rasio pajak adalah indikator yang menggambarkan penerimaan negara dari pajak terhadap total PDB nasional atau tax revenue as % of GDP (top line indicator). Silahkan kalo tertarik lebih lanjut bisa di googling.
Tax ratio atau rasio pajak adalah indikator yang menggambarkan penerimaan negara dari pajak terhadap total PDB nasional atau tax revenue as % of GDP (top line indicator). Silahkan kalo tertarik lebih lanjut bisa di googling.
Apakah rasio pajak (tax ratio) itu sama dengan tarif pajak ?
Tidak, ini dua indikator dan variable yang berbeda, tapi saling terkait satu sama lain. Untuk mendapatkan tax ratio yang tinggi bukan berarti secara linier tarif pajak harus tinggi juga. Tax ratio tinggi bisa didapatkan dengan tarif pajak yang rendah juga.
Tidak, ini dua indikator dan variable yang berbeda, tapi saling terkait satu sama lain. Untuk mendapatkan tax ratio yang tinggi bukan berarti secara linier tarif pajak harus tinggi juga. Tax ratio tinggi bisa didapatkan dengan tarif pajak yang rendah juga.
Apakah bisa meningkatkan tax ratio tetapi tidak dengan menaikkan tarif pajak?
Jawabannya bisa dan memungkinkan, usaha untuk menaikkan tax ratio tidak harus selalu linier dengan menaikkan tarif pajak individu ataupun korporasi, banyak cara kreatif lainnya yang bisa digunakan contohnya dengan menaikkan tax base atau yang dikenal dengan broad base low rate, yaitu perluasan basis pajak melalui tarif yang rendah. Saat ini tax base kita masih tergolong rendah juga, masih di level sekitar 32 juta dari total penduduk sekitar 265 juta, dan menurut beberapa kajian dan paparan dosen pembimbing saya di sekolah kebijakan publik pak Gita Wirjawan, former trade minister, potentially masih ada sekitar 60 juta basis pajak yang belum terjamah dr individu dan UMKM the untapped market (SGPP, 2017). Selain menaikkan tax base, bisa juga dilakukan memaksimalan kembali kebijakan tax amnesty untuk mendapatkan asset repatriasi dari luar (estimasi potensinya mencapai 11.000T), dan juga normal atau business as usual gradually dengan tax reform (perbaikan regulasi, proses bisnis, sistem administrasi, tata organisasi, dan SDM).
Jawabannya bisa dan memungkinkan, usaha untuk menaikkan tax ratio tidak harus selalu linier dengan menaikkan tarif pajak individu ataupun korporasi, banyak cara kreatif lainnya yang bisa digunakan contohnya dengan menaikkan tax base atau yang dikenal dengan broad base low rate, yaitu perluasan basis pajak melalui tarif yang rendah. Saat ini tax base kita masih tergolong rendah juga, masih di level sekitar 32 juta dari total penduduk sekitar 265 juta, dan menurut beberapa kajian dan paparan dosen pembimbing saya di sekolah kebijakan publik pak Gita Wirjawan, former trade minister, potentially masih ada sekitar 60 juta basis pajak yang belum terjamah dr individu dan UMKM the untapped market (SGPP, 2017). Selain menaikkan tax base, bisa juga dilakukan memaksimalan kembali kebijakan tax amnesty untuk mendapatkan asset repatriasi dari luar (estimasi potensinya mencapai 11.000T), dan juga normal atau business as usual gradually dengan tax reform (perbaikan regulasi, proses bisnis, sistem administrasi, tata organisasi, dan SDM).
Jadi berapakah standard acuan tax ratio yang sebaiknya digunakan ?
Apabila kita mengacu kepada standar world bank rata-rata minimal di 15% (World Bank, 2016), apabila mengacu OECD negara2 maju average di 34% (OECD, 2014). Indonesia saat ini mengalami penurunan dari tahun ke tahun hingga ke level sekitar 10%, masih jauh dari standard tax ratio baik itu dari world bank ataupun OECD.
Apabila kita mengacu kepada standar world bank rata-rata minimal di 15% (World Bank, 2016), apabila mengacu OECD negara2 maju average di 34% (OECD, 2014). Indonesia saat ini mengalami penurunan dari tahun ke tahun hingga ke level sekitar 10%, masih jauh dari standard tax ratio baik itu dari world bank ataupun OECD.
Dahulu kala ketika oil boom era sekitar tahun 80-90an, dimana Indonesia masih menjadi anggota OPEC dan pendapatan negara masih dominan dari sektor migas, kita tidak perlu terlalu mengandalkan pendapatan utama negara dari pajak, pembangunan sepenuhnya tidak perlu dibiayai oleh rakyat, sayangnya saat itu kita tidak bisa “memanfaatkan” momentum tersebut dengan maksimal seperti halnya norwegia dengan oil sovereign wealth fund nya dan strategi diversifikasi ketahanan renewable energy nya. Saat ini kita harus menghadapi realita dimana kita sudah menjadi net oil importing country, bukan lagi net oil exporting country seperti halnya di era kejayaan oil boom era 80-90an era, sehingga pendapatan negara sudah tidak bisa mengandalkan sektor migas lagi.
Jadi wacana meningkatkan tax ratio yang dikemukakan salah satu paslon tersebut sangat perlu dielaborasi dan ditindaklanjuti oleh siapapun pemenang pilpres 2019 ini, kita rakyat menantikan terobosan2 konsep, ide, dan eksekusi yang terbaik dari setiap pasangan untuk meningkatkan top line revenue stream untuk negara. Yang paling dibutuhkan adalah political will and goodwil yang kuat dari top leader or elite di negara kita.
“Tidak ada negara miskin di dunia ini, yang ada negara kaya yang salah kelola” (Tanri Abeng)
Donny M Siradj (various sources)
EKONOMI
Donny M. Siradj
September 17, 2019
Another interesting narrative..kapitalisme rasa sosialis
:-)...employee stock options vs bagi hasil ala koperasi ?
Bluebird Story The Magic of Sharing Economy.
@Strategy_Bisnis
@Strategy_Bisnis
Tahun lalu total pendapatan bluebird group tembus 4,75 triliun. Net profit 735 milyar. Jd margin sktr 16%. Angka yg rasional.
Net profit bluebird 735 Milyar thn lalu. Jumlah driver 36 ribu. Jadi setahun 1 driver sumbang 20 juta profit ke owner bluebird. Masuk akal.
Kapitalisme memang spt itu. Profit 735M hanya terkonsentrasi pd keluarga pemilik Blubird. 36 ribu supir jd sekrup. Ya sekrup
Dg sistem sharing spt uber, laba 735M itu bisa terdistribusi lebih merata ke ribuan mitranya. Tdk hanya dinikmati 2 - 3 owner spt kasus BB.
Kalo uber jd berbentuk koperasi, model pembagian laba-nya jd lbh adil. Lebih bergaya socialism. Laba lebih merata. Tdk spt capitalism.
Jika uber berbentuk koperasi, ribuan driver blubird sbnrnya bisa pindah ke uber. Jd anggota. Pendapatan bs lbh tinggi. BB bisa kolaps.
Milih mana? 735 milyar laba dinikmati bu noni purnomo dan keluarganya saja. Atau terdistribusi lebih merata dalam bentuk koperasi uber?
Tantangannya, bgm supir ex BB itu sanggup kasi DP buat beli mobil untk jd mitra koperasi uber? Gandeng lembaga keuangan. Buat skema yg pas.
Itulah esensi ekonomi yg diimpikan bung hatta. Ribuan supir ex BB punya mobil sndiri sbg anggota koperasi Uber. Dan bisa dpt profit sharing.
Persis disitulah kejaiban aplikasi teknologi benar2 bisa mewujudkan ide indah sosialisme ala Bung Hatta jd kenyataan. Via Koperasi Uber.
Karl Marx mungkin tertegun. Bgm bisa aplikasi Uber ciptaan negri kapitalis, menjelma menjadi alat demokratisasi ekonomi rakyat.
Sinergi ribuan supir ex BB, koperasi uber dan lmbaga keuangan dlm skema yg win2; bisa benar2 memajukan ekonomi kelas bawah. Uber revolution.
Jika ribuan supirnya lari jd mitra Uber krn dpt profit sharing yg lbh fair, bgm nasib BB? Ya bisa kolaps. Tapi itulah kemenangan sosialisme.
Supir blubird mestinya jangan protes. Dekati koperasi uber. Tinggalkan BB. Gandeng lembaga keuangan. Ciptakan kerjasama win win.
Laba 735M hanya untk satu keluarga adlh contoh extreme capitalism. Aliansi ribuan supir ex BB dg koperasi Uber bisa merobohkan dominasi itu.
Kalau ribuan supir BB bergabung dg koperasi Uber dlm skema yg lbh fair, pelan2 dominasi kapitalisme ekstrem Bluebird bisa dipatahkan.
Aliansi ribuan supir ex BB dgn koperasi Uber mngkin akn dikenang dlm sejarah sbg bentuk revolusi ekonomi rakyat. Bung Hatta bisa tersenyum.
Apakah aliansi ribuan supir taksi ex Blubird dkk dg koperasi uber bisa jd realitas? Bisa kalo ada lembaga keuangan yg cerdik dan kreatif.
Apakah aliansi ribuan supir taksi ex Blubird dkk dg koperasi uber bisa jd realitas? Bisa kalo ada lembaga keuangan yg cerdik dan kreatif.
Paparan tadi mendedahkan sebuah fakta magis : betapa aplikasi teknologi benar2 menjelma menjadi agen revolusi ekonomi kerakyatan.
Tapi itulah memang kekuatan magis teknologi : membuat sistem kapitalisme yg rakus dan tdk efisien menjadi kolaps.
Dlm buku2 filsafat ekonomi, skema sharing economy ala uber itulah yg diimpikan oleh sosok spt bung hatta. Sistem ekonomi yg lebh fair.
Dlm buku2 filsafat ekonomi, skema sharing economy ala uber itulah yg diimpikan oleh sosok spt bung hatta. Sistem ekonomi yg lebh fair.
Esensi ekonomi sharing ala Uber itulah yg dulu pernah diangankan oleh bung Hatta. Krn lbh fair, efisien dan terdistribusi dg adil.
Tidak terkonsentasi spt dlm extreme capitalism. Spt kasus laba 735M yg dinikmati hanya oleh segelintir keluarga pemilik Bluebird.
Sementara 36 ribu drivernya termehek2 dlm nestapa. Pdhl setahun masing2 dr mrka sudah sumbang 20 juta ke owner Bluebird.
Sinergi Koperasi Uber, ribuan supir ex Bluebird dan lembaga keuangan yg cerdik, akan membuat penghasilan mrka bisa naik signifikan.
Tidak terkonsentasi spt dlm extreme capitalism. Spt kasus laba 735M yg dinikmati hanya oleh segelintir keluarga pemilik Bluebird.
Sementara 36 ribu drivernya termehek2 dlm nestapa. Pdhl setahun masing2 dr mrka sudah sumbang 20 juta ke owner Bluebird.
Sinergi Koperasi Uber, ribuan supir ex Bluebird dan lembaga keuangan yg cerdik, akan membuat penghasilan mrka bisa naik signifikan.
Agak tertegun, ide dasar ekonomi sharing yg dulu diimpikan bung Hatta, bisa jd realitas krn aplikasi teknologi buatan silicon valley.
Tapi itulah memang visi esensial pendiri uber : bgm agar aplikasi teknologi bisa wujudkan ide ekonomi sosialisme spt yg dicitakan bung Hata.
Lembaga keuangan yg cerdik harus sgra cari pentolan2 driver bluebird. Dialog dan rintis skema win win dan bikin aliansi dg koperasi Uber.
Apakah ide aliansi ribuan supir eks bluebird dg koperasi uber adlh ide utopia (fantasi)? Why not. Impossible is nothing.
Negri utopia itulah yg dulu jg ditulis Karl Marx dlm adikaryanya Das Kapital. Negri saat ribuan kaum proletar bersatu, robohkan capital
ism.
ism.
Ide negri utopia ekonomi sosialis itu berkali2 gagal jadi realitas. Ajaibnya, aplikasi uber dg koperasi uber, yg bisa wujudkan ide itu.
Itulah Paradoks Teknologi : bgm aplikasi buatan negri kapitalis yg justru akan jadi senjata maut untk membunuh kapitalisme yg rakus.
Karl Marx dan Bung Hatta mngkn tdk pernah mnyangka bahwa ide2 besarnya tth sharing economy yg lbh fair, diwujudkan oleh Silicon Valley Guys.
Perjumpaan ide Karl Marx, Impian Bung Hatta dg kekuatan aplikasi Uber + aliansi supir ex Bluebird, mungkn bs jd judul skripsi yg menarik.
Tp mungkin itulah sejatinya kekuatan indah dari teknologi : sebuah narasi gemilang ttg the rise of smart apps dlm mengubah peradaban.
Energi kemarahn ribuan supir bluebird mungkin akan lbh cantik jika disenyawakan dg energi sharing economy ala Uber.
Sbb persenyawaan ribuan ex supir taksi bluebird dg koperasi Uber-lah yg hanya bisa membuat nasib mrka berubah.
Dan persis pd titik itulah, mungkin mendiang Bung Hatta bisa tersenyum bangga di alam peristirahatannya.
END.
Bluebird Story The Magic of Sharing Economy.
Bluebird Story The Magic of Sharing Economy.
Langganan:
Postingan (Atom)










